Rabu, 02 November 2016

Kegelisahan

Matahari mulai menampakkan senyumannya dipagi ini, suara dentingan jam pun semakin kuat dan jelas terdengar diruangan tersebut seakan akan suaranya memberikan irama pada hati seorang wanita yang sedang duduk berdiam diri di waktu yang sepi.

"Hsshh..hshh..." Suara desisan angin yang memasuki celah - celah ventilasi ruangan sederhana itu telah membuat dirinya tertegun dari lamunan nya yang selalu memikirkan bagaimana ia menghadapi ujian proposal dikemudian hari seperti yang ia lihat dihari ini.

Dewi Suryani duduk diruangan tersebut denan penuh kegelisahan. Perasaannya campur aduk antara takut dan tegang. Takut bahwa dikemudian hari ia akan gagal dalam stuasi ini, dan tegang karena ia terlalu memikirkannya.

Jam dinding pun berbunyi menunjukkan pukul 12.00 wib . Dewi keluar dari ruangan tersebut dan bergegas untuk pulang.
Sesampainya dirumah ia langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur kesayangannya dan kembali memikirkan bagaimana cara dirinya menghadapi situasi yg dia lihat pagi ini.

Tak ingin lama menyelesaikan perkuliahan, ia pun mulai mengotak ngatik laptopnya untuk mencari inspirasi inspirasi

Sejak saat itu Dewi mulai mencari dan terus mencari ide dan judul untuk mempersiapkan matang matang dirinya menghadapi ujian proposal mendatang.

Suatu harapan yang besar tertanam dalam jiwanya , untuk menyelesaikan perkuliahan dengan cepat, lancar menghadapi ujian proposal dan sidang skripsi. Dia berharap 3,5 tahun itu dapat dicapainya.

Selasa, 25 Oktober 2016

Autobiography of Dewi Suryani


BAB I
Langit Perempuan

Aku menjulukinya seorang wanita hebat. Wanita yang selalu membawakan senyuman di setiap harinya, wanita yang selalu memberikan kasih sayangnya dari hati. Sangat tulus, setulus tetesan embun pagi yang selalu menyejukkan ubun-ubun kepala hingga ke dasar hati. Sekali lagi, dari ujung langit malam aku bersorak engkau memang wanita hebat.

***

Di suatu hari tepat pada 44 tahun yang lalu Dewi Suryani terlahir kedunia ini, semasa kecilnya ia dikenal sebagai anak yang ceria, cerdas, dan sangat aktif. Waktu begitu terasa cepat berjalan,  Now she enrolled at Lancang Kuning University, the Faculty of Education, majoring in English Department previously she had studied at the University Ekasakti D3 (UNES) Padang, majoring in Accounting, 1992. Married with Aliyanto force in 2000 and has two children, namely Randi Pratama Ramadhani and his beautiful princess named Rania Salsabila Ali. In life there are three idols were very inspired him that Mami, husband, and Mahatma Gandhi.
 

And now works as an English language institute founder and ECD Lilik Little Star, which is located on K.H Nasution street


Perhaps no one thought that a Dewi Suryani was to become a teacher, even has its own school. Moreover she, has an extensive background in hospitality jobs.

Lulusan Universitas Eka Sakti (Unes) Padang jurusan akuntansi ini telah menggeluti dunia perhotelan sejak masa kuliahnya, sejak dari resepsionis, marketing dan general manager telah dirasakannya semenjak tahun 1997.
Ketika pihak manajemen memperjuangkan kontraknya ternyata Dewi mendapatkan tantangan dari orang tuanya, terutama Sang Mami. Alasan Mami tidak menyetujui lanjutnya kontrak kerja antara Dewi dengan hotel tersebut karena Mami merasa khawatir dengan kisruh hotel tersebut pada zamannya, terlebih lagi pada saat itu Dewi masih gadis. Namun kehilangan pekerjaan di Hotel tersebut tidak meruntuhkan semangatnya karena Dewi termasuk type “workaholic”.
Then, Dewi getting a new job in Gandhi International School in Jakarta as Accountant Manager, where he worked since 1998 to 2007. She was a lot of getting science education and start growing love for the world of education.
Seiring dengan berjalannya waktu, terbukti kecintaan Dewi terhadap anak-anak dan dunia pendidikan memang tak tergantikan. Bahkan karirnya di dunia perhotelan rela ia tinggalkan demi membangun sebuah sekolah.
In November 2009, Dewi founded the Little Star English Course at Gelugur street, the first month it had 20 students and the third month she had become a teacher.
Pilihan ia ingin bergelut di dunia pendidikan adalah pilihan yang sangat tepat. Di tahun ajaran ke-duanya jumlah murid di PAUD Lilik miliknya meningkat menjadi 35 murid dari tahun sebelumnya 20 murid.
Keinginan Dewi membangun sekolah ternyata sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Kesenangannya kepada anak-anak memang sangat mendukung dengan pilihannya di dunia pendidikan. Terinspirasi dari hal tersebut, wanita yang akrab di panggil Mrs Dewi oleh murid – muridnya ini semakin kuat untuk mendirikan lembaga pendidikan buat anak – anak. Until now, there is she have third of the education agency that she had, namely Little Star English Course, PAUD Lilik, and Tempat Penitipan Anak Salsabila.
Mahatma Gandhi is a world leader, an inspiration for him in building an educational institution.
Saat itu Gandhi membangun sekolah dari nol. Mengubah tanah yang keras merintis sebuah sekolah di India, dan dibawah tekanan penjajahan pada masa tersebut tidak lah mudah, spirit and incredible desire is what makes Dewi highly motivated and admiring herself as an inspirational figure. According to Dewi success is not the measure of money, but look the children to be smart and go forth that the happiness and success of its own that can not be valued in money.
Memilih untuk meninggalkan dunia hotel dan akuntan bukanlah pilihan yang membuatnya menyesal, bahkan dunia pendidikan inilah yang dapat membuatnya merasa lebih enjoy hingga sekarang dalam menjalani hidupnya. Keputusan dewi untuk mendirikan lembaga pendidikan ternyata juga sangat di dukung oleh suami. Sering sekali mereka mengatasi kendala – kendala dan melengkapi ide satu sama lainnya untuk memajukan lembaga pendidikan tersebut.
Bukan hanya sebagai pendiri lembaga pendidikan, Dewi juga seorang ibu dan istri yang sangat baik. for example, that she is very good cheef, according to Dewi, cooking will be good communications between families, in addition to the discount he cooks many other benefits, such as the food is healthier, more comfortable and certainly more hygienic assured her.
Berbagai kreasi masakan dilakukan olehnya dengan metode – metode dan caranya tersendiri, masakan seperti semur, capcai dan sayuran pun menjadi masakan favoritnya untuk keluarga.
Besided cooking for his family Dewi also try to spend a holiday like every day of the week to be with husband and children . Usually jogging to the park so a favorite activity for families, such as Car Free Day in every Sunday morning.

Bagi Dewi tujuan hidup dan pekerjaan ibarat bermain tenis meja, salah satu olahraga yang sangat digemarinya. Jika ingin meraih keinginan harus dikejar. Hingga kini ia masih menggemari tenis meja walaupun tidak lagi sering bermain seperti dulu. Olahraga ini sering dimainkannya sejak kecil karena orangtuanya dulu memiliki papan meja untuk bermain tenis meja, karena sering bermain Dewi sudah sangat akrab dengan salah satu cabang olahraga tersebut dan kadang – kadang mengikuti pertandingan di tempat tinggalnya. Memang tidak ada alasan khusus mengapa ia sangat menyukai olahraga terserbut, namun ia  merasa ada kecocokan sifat dengan permainan ini, yaitu sama sama serius.
Menurut Dewi tenis meja adalah olahraga yang serius. Kita harus bisa menguasai bola dan bermain cantik di meja yang luasnya tidak seberapa. Dalam prinsip hidup, pedoman itu yang dipegang oleh Dewi. Sama seperti mengejar atau menjemput bola pingpong, sifat ia juga selalu menjemput apa yang ia tuju dan inginkan dihidupnya. 

BAB II
We Can Do it
 
          Accounting and marketing an ordinary world lived Dewi Suryani, since the beginning of his career to pursue these two fields in various private institutions.But now, his career path changed by focusing on education
Alih profesi ini bukan tanpa sebab. Mendirikan sekolah merupakan cita – citanya sejak lama. Sejak kecil, Dewi dan saudaranya dibiasakan orang tua untuk berbagi dengan menolong anak – anak yang tidak mampu di dekat tempat tinggal mereka. Ia kasihan melihat anak – anak banyak yang tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah. Padahal mereka juga memliki kemampuan yang sama seperti anak lainnya, hanya saja tidak mendapatkan kesempatan. Karena itulah timbul keinginannya untuk mendirikan sekolah dikemudian hari yang juga bisa dimasuki oleh anak – anak semua kalangan.
Mimpinya untuk membuat pusat pendidikan dengan bahasa pengantar Inggris dan Indonesia semakin menggebu setelah suatu hari nilai Bahasa Inggris putranya anjlok. Padahal, selama ini putranya bisa dikatakan cukup menguasai Bahasa Inggris untuk usia anak anak sepertinya. Ia juga terbilang bagus dalam pengucapannya.

Menurut keterangan ibu guru putranya di sekolah, nilainya turun karena putranya mengalami kesulitan saat menulis. As parents of course he was disappointed, from that moment Dewi determined to have to continue to train their children to write and understand about English.
Not only that, she also had invited randi’s friend to learn together at home. Itulah asal usul berdirinya kursus Little Star yang di dirikannya dan kemudian berkembang dengan penambahan PAUD LILIK.
Ia pun tak segan meninggalkan profesi yang sudah dimilikinya, yaitu sales manager di sebuah Hotel di Pekanbaru. Dewi lalu fokus pada lembaga Bahasa Inggris Little Star yang sudah berjalan sejak bulan Januari dan PAUD yang didirikannya pada November. ia sekaligus mengelola Tempat Penitipan Anak di PAUD yang berlokasi di Jalan Kaharuddin Nasution No.157 G – H itu.
Menurut Dewi, usia balita adalah masa – masa golden age. Artinya, di usia itu anak – anak akan menyerap lebih baik apa yang diajarkan kepadanya. Sangat disayangkan jika kesempatan untuk mendidik anak di usia itu disia – siakan.
Sehubungan dengan cita – citanya untuk mempunyai sekolah, maka dewi memilih mendirikan PAUD yang langsung taman kanak – kanak. Bahasa Inggris dan Indonesia sebagai pengantarnya.
she wants to give children the opportunity for anyone to get an education, that education does not have to be expensive. Additionally at this time the child is also easier to learn two languages. Maka pada usia itulah kesempatan anak bisa menangkap dengan cepat Bahasa Inggris yang diperkenalkan padanya. Apalagi kemampuan ini sangat berguna dikemudian hari.
Masyarkat semakin hari semakin banyak dan mengglobalnya karena itu Bahasa Inggris sangat penting. Usia golden age adalah saat yang tepat untuk mempelajari bahasa itu.
Pada dua orang anaknya , Randy dan Rania, Dewi juga memperkenalkan Bahasa Inggris kepada anak – anaknya sejak mereka balita. Sejak balita , mereka dibiasakan berbicara dengan bahasa Internasioal itu agar terbiasa mengucapkan Bahasa Inggris. Semangat Dewi memang tidak bisa diragukan lagi, ia seperti seorang sosok Raden Ajeng Kartini masa kini, yang dengan susah payah untuk bisa mendirikan sekolah guna mencerdaskan kehidupan bangsa, dan yang sangat mengutamakan dunia pendidikan untuk dirinya, keluarga dan banyak orang. Ditengah kesibukannya ia tidak henti untuk tetap membaca dan berdiskusi dengan teman – temannya dan memberikan ilmu, pengalaman, dan semangat nya. Dewi adalah seorang inspiratif yang bisa menumbuhkan semangat banyak orang.
Misalnya di usia nya yang sekarang ini semangatnya tidak luntur untuk tetap melanjutkan pendidikan nya ke S1, walaupun dia adalah seorang ibu, seorang istri, dan pendidik disuatu lembaga, itu semua tidak mempengaruhi semngatnya dan ia menjalaninya dengan senang hati.
Dewi terkenal di fakultasnya sebagai orang yang ramah, cerdas dan friendly. Di semester 1 dan semester 2 ia memperoleh IPK yang sempurna yaitu 4.0. ia sangat membaur dengan semua teman – temannya di kampus walaupun kebanyakan diantara teman – teman nya itu usianya terpaut jauh lebih muda dari dirinya, tapi ini semua tidak menutup kemungkinan bagi Dewi untuk bisa sangat dekat dengan teman – temannya.
Ia juga menjadi panutan dari teman – temannya karena menurut dari beberapa temannya mereka merasa nyaman berdiskusi, menceritakan masalah dan meminta pendapat kepada Dewi. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah banyak ia lewati itu akan dapat memberikan solusi atau saran kepada temannya yang membutuhkan hal tersebut. Ia  adalah wanita yang sangat berfikiran maju.