BAB I
Langit Perempuan
And now works as an English language institute founder and ECD Lilik Little Star, which is located on K.H Nasution street
Langit Perempuan
Aku
menjulukinya seorang wanita hebat. Wanita yang selalu membawakan senyuman di
setiap harinya, wanita yang selalu memberikan kasih sayangnya dari hati. Sangat
tulus, setulus tetesan embun pagi yang selalu menyejukkan ubun-ubun kepala
hingga ke dasar hati. Sekali lagi, dari ujung langit malam aku bersorak engkau
memang wanita hebat.
***
Di suatu hari tepat pada 44 tahun yang lalu Dewi Suryani terlahir kedunia ini,
semasa kecilnya ia dikenal sebagai anak yang ceria, cerdas, dan sangat aktif.
Waktu begitu terasa cepat berjalan, Now she enrolled at Lancang Kuning
University, the Faculty of Education, majoring in English Department previously
she had studied at the University Ekasakti D3 (UNES) Padang, majoring in
Accounting, 1992. Married with Aliyanto force in 2000 and has two children,
namely Randi Pratama Ramadhani and his beautiful princess named Rania Salsabila
Ali. In life there are three idols were very inspired him that Mami, husband,
and Mahatma Gandhi.
And now works as an English language institute founder and ECD Lilik Little Star, which is located on K.H Nasution street
Perhaps no one
thought that a Dewi Suryani was to become a teacher, even has its own school. Moreover she, has
an extensive background in hospitality jobs.
Lulusan Universitas Eka Sakti (Unes)
Padang jurusan akuntansi ini telah menggeluti dunia perhotelan sejak masa
kuliahnya, sejak dari resepsionis, marketing dan general manager telah
dirasakannya semenjak tahun 1997.
Ketika pihak manajemen memperjuangkan
kontraknya ternyata Dewi mendapatkan tantangan dari orang tuanya, terutama Sang
Mami. Alasan Mami tidak menyetujui lanjutnya kontrak kerja antara Dewi dengan
hotel tersebut karena Mami merasa khawatir dengan kisruh hotel tersebut pada
zamannya, terlebih lagi pada saat itu Dewi masih gadis. Namun kehilangan
pekerjaan di Hotel tersebut tidak meruntuhkan semangatnya karena Dewi termasuk
type “workaholic”.
Then, Dewi getting
a new job in Gandhi International School in Jakarta as Accountant Manager,
where he worked since 1998 to 2007. She was a lot of getting science education
and start growing love for the world of education.
Seiring dengan berjalannya waktu,
terbukti kecintaan Dewi terhadap anak-anak dan dunia pendidikan memang tak
tergantikan. Bahkan karirnya di dunia perhotelan rela ia tinggalkan demi
membangun sebuah sekolah.
In November 2009,
Dewi founded the Little Star English Course at Gelugur street, the first month
it had 20 students and the third month she had become a teacher.
Pilihan ia ingin bergelut di dunia
pendidikan adalah pilihan yang sangat tepat. Di tahun ajaran ke-duanya jumlah
murid di PAUD Lilik miliknya meningkat menjadi 35 murid dari tahun sebelumnya 20
murid.
Keinginan Dewi membangun sekolah
ternyata sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Kesenangannya kepada anak-anak
memang sangat mendukung dengan pilihannya di dunia pendidikan. Terinspirasi
dari hal tersebut, wanita yang akrab di panggil Mrs Dewi oleh murid – muridnya
ini semakin kuat untuk mendirikan lembaga pendidikan buat anak – anak. Until now, there is she have third of the education
agency that she had, namely Little Star English Course, PAUD Lilik, and Tempat
Penitipan Anak Salsabila.
Mahatma Gandhi is a
world leader, an inspiration for him in building an educational institution.
Saat itu Gandhi membangun sekolah dari
nol. Mengubah tanah yang keras merintis sebuah sekolah di India, dan dibawah
tekanan penjajahan pada masa tersebut tidak lah mudah, spirit and incredible desire is what makes Dewi highly
motivated and admiring herself as an inspirational figure. According to Dewi
success is not the measure of money, but look the children to be smart and go
forth that the happiness and success of its own that can not be valued in money.
Memilih untuk meninggalkan dunia hotel
dan akuntan bukanlah pilihan yang membuatnya menyesal, bahkan dunia pendidikan
inilah yang dapat membuatnya merasa lebih enjoy hingga sekarang dalam menjalani
hidupnya. Keputusan dewi untuk mendirikan lembaga pendidikan ternyata juga
sangat di dukung oleh suami. Sering sekali mereka mengatasi kendala – kendala
dan melengkapi ide satu sama lainnya untuk memajukan lembaga pendidikan
tersebut.
Bukan hanya sebagai pendiri lembaga
pendidikan, Dewi juga seorang ibu dan istri yang sangat baik. for example, that she is very good cheef, according to Dewi,
cooking will be good communications between families, in addition to the
discount he cooks many other benefits, such as the food is healthier, more
comfortable and certainly more hygienic assured her.
Berbagai kreasi masakan dilakukan
olehnya dengan metode – metode dan caranya tersendiri, masakan seperti semur,
capcai dan sayuran pun menjadi masakan favoritnya untuk keluarga.
Besided cooking for
his family Dewi also try to spend a holiday like every day of the week to be
with husband and children . Usually jogging to
the park so a favorite activity for families, such as Car Free Day in every
Sunday morning.
Bagi
Dewi tujuan hidup dan pekerjaan ibarat bermain tenis meja, salah satu olahraga
yang sangat digemarinya. Jika ingin meraih keinginan harus dikejar. Hingga kini
ia masih menggemari tenis meja walaupun tidak lagi sering bermain seperti dulu.
Olahraga ini sering dimainkannya sejak kecil karena orangtuanya dulu memiliki
papan meja untuk bermain tenis meja, karena sering bermain Dewi sudah sangat
akrab dengan salah satu cabang olahraga tersebut dan kadang – kadang mengikuti
pertandingan di tempat tinggalnya. Memang tidak ada alasan khusus mengapa ia
sangat menyukai olahraga terserbut, namun ia
merasa ada kecocokan sifat dengan permainan ini, yaitu sama sama serius.
Menurut
Dewi tenis meja adalah olahraga yang serius. Kita harus bisa menguasai bola dan
bermain cantik di meja yang luasnya tidak seberapa. Dalam prinsip hidup,
pedoman itu yang dipegang oleh Dewi. Sama seperti mengejar atau menjemput bola
pingpong, sifat ia juga selalu menjemput apa yang ia tuju dan inginkan
dihidupnya.
BAB
II
We Can Do it
Accounting and marketing an ordinary world lived Dewi Suryani, since the
beginning of his career to pursue these two fields in various private
institutions.But now, his career path changed by focusing on
education
Alih
profesi ini bukan tanpa sebab. Mendirikan sekolah merupakan cita – citanya
sejak lama. Sejak kecil, Dewi dan saudaranya dibiasakan orang tua untuk berbagi
dengan menolong anak – anak yang tidak mampu di dekat tempat tinggal mereka. Ia
kasihan melihat anak – anak banyak yang tidak mempunyai kesempatan untuk
bersekolah. Padahal mereka juga memliki kemampuan yang sama seperti anak
lainnya, hanya saja tidak mendapatkan kesempatan. Karena itulah timbul
keinginannya untuk mendirikan sekolah dikemudian hari yang juga bisa dimasuki
oleh anak – anak semua kalangan.
Mimpinya
untuk membuat pusat pendidikan dengan bahasa pengantar Inggris dan Indonesia
semakin menggebu setelah suatu hari nilai Bahasa Inggris putranya anjlok.
Padahal, selama ini putranya bisa dikatakan cukup menguasai Bahasa Inggris
untuk usia anak anak sepertinya. Ia juga terbilang bagus dalam pengucapannya.
Menurut
keterangan ibu guru putranya di sekolah, nilainya turun karena putranya
mengalami kesulitan saat menulis. As
parents of course he was disappointed, from that moment Dewi determined to have
to continue to train their children to write and understand about English.
Not only that, she also had invited randi’s friend to
learn together at home. Itulah asal usul
berdirinya kursus Little Star yang di dirikannya dan kemudian berkembang dengan
penambahan PAUD LILIK.
Ia
pun tak segan meninggalkan profesi yang sudah dimilikinya, yaitu sales manager
di sebuah Hotel di Pekanbaru. Dewi lalu fokus pada lembaga Bahasa Inggris
Little Star yang sudah berjalan sejak bulan Januari dan PAUD yang didirikannya
pada November.
ia sekaligus mengelola Tempat Penitipan Anak di PAUD yang berlokasi di Jalan
Kaharuddin Nasution No.157 G – H itu.
Menurut
Dewi, usia balita adalah masa – masa golden
age. Artinya, di usia itu anak – anak akan menyerap lebih baik apa yang
diajarkan kepadanya. Sangat disayangkan jika kesempatan untuk mendidik anak di
usia itu disia – siakan.
Sehubungan
dengan cita – citanya untuk mempunyai
sekolah, maka dewi memilih mendirikan PAUD yang langsung taman kanak – kanak.
Bahasa Inggris dan Indonesia sebagai pengantarnya.
she wants to give children the opportunity for anyone to
get an education, that education does not have to be expensive. Additionally
at this time the child is also easier to learn two languages.
Maka pada usia itulah kesempatan anak bisa menangkap dengan cepat Bahasa
Inggris yang diperkenalkan padanya. Apalagi kemampuan ini sangat berguna
dikemudian hari.
Masyarkat
semakin hari semakin banyak dan mengglobalnya karena itu Bahasa Inggris sangat
penting. Usia golden age adalah saat yang tepat untuk mempelajari bahasa itu.
Pada
dua orang anaknya , Randy dan Rania, Dewi juga memperkenalkan Bahasa Inggris
kepada anak – anaknya sejak mereka balita. Sejak balita , mereka dibiasakan
berbicara dengan bahasa Internasioal itu agar terbiasa mengucapkan Bahasa
Inggris. Semangat Dewi memang tidak bisa diragukan lagi, ia seperti seorang
sosok Raden Ajeng Kartini masa kini, yang dengan susah payah untuk bisa
mendirikan sekolah guna mencerdaskan kehidupan bangsa, dan yang sangat
mengutamakan dunia pendidikan untuk dirinya, keluarga dan banyak orang.
Ditengah kesibukannya ia tidak henti untuk tetap membaca dan berdiskusi dengan
teman – temannya dan memberikan ilmu, pengalaman, dan semangat nya. Dewi adalah
seorang inspiratif yang bisa menumbuhkan semangat banyak orang.
Misalnya
di usia nya yang sekarang ini semangatnya tidak luntur untuk tetap melanjutkan
pendidikan nya ke S1, walaupun dia adalah seorang ibu, seorang istri, dan
pendidik disuatu lembaga, itu semua tidak mempengaruhi semngatnya dan ia
menjalaninya dengan senang hati.
Dewi
terkenal di fakultasnya sebagai orang yang ramah, cerdas dan friendly. Di
semester 1 dan semester 2 ia memperoleh IPK yang sempurna yaitu 4.0. ia sangat
membaur dengan semua teman – temannya di kampus walaupun kebanyakan diantara
teman – teman nya itu usianya terpaut jauh lebih muda dari dirinya, tapi ini
semua tidak menutup kemungkinan bagi Dewi untuk bisa sangat dekat dengan teman
– temannya.
Ia
juga menjadi panutan dari teman – temannya karena menurut dari beberapa
temannya mereka merasa nyaman berdiskusi, menceritakan masalah dan meminta
pendapat kepada Dewi. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah banyak ia lewati
itu akan dapat memberikan solusi atau saran kepada temannya yang membutuhkan
hal tersebut. Ia adalah wanita yang
sangat berfikiran maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar