Kamis, 06 Oktober 2016

“ My Feel like a water on the bottle”




“coba tebak, siapa orang yang aku temuin dikantor tadi?”
“siapa?”
“fito”
Fito. Nama itu mungkin tak akan pernah menjadi spesial jika temanku, Kiran, tidak memperlihatkan foto pria yang sedang menarik perhatiannya saat itu. Pada foto yang diperlihatkannya, ada dua pria sedang berdiri memamerkan senyum. Salah seorangnya bernama Kelana, yang begitu dipuja-puja oleh Kiran. Disebelah Lana, ada pria bersweater merah dan berkalungkan kamera DSLR. Tanpa sengaja aku memuji pria itu dengan ungkapan “cakep” entah bagaimana aku tiba-tiba memujinya demikian, memuji orang yang kemudian aku tau bernama fito. Fito,sama sekali aku tidak pernah mengenalnya bahkan melihatnya secara langsung dengan kedua mataku pun belum pernah. Tapi ia, perlahan, tapi pasti, dan tanpa aku sadari, telah membawaku pada suatu petualangan yang tidak bisa aku kendalikan. Aku jatuh cinta kepada dia yang tak pernah kulihat langsung. Tak pernah kusangka pujian itu membuatku berjalan jauh mencari tahu, siapa itu Fito Prasetya Tambayong.
                “fito bekerja di PT. Indonesia Ionized Mineral Water juga,” jelas Kiran.
Yap, ia adalah rekan kerja Kiran di PT yang memproduksi air mineral itu dan juga dibagian yang sama dengan Kiran yaitu dibagian Laboratorium. Hanya saja fito berumur 4 tahun lebih tua daripada kami. Sejak Kiran tahu aku tertarik pada fito dia selalu memberi tahu apapun tentang fito yang tidak ku ketahui tentang bagaimana fito hari ini dikantor, tentang bagaimana dia jalan dengan teman-temannya. Apapun yang Kiran ketahui tentang fito selalu diceritakannya kepadaku. Kiran, mata ketigaku, mata yang tak pernah ku paksa untuk bercerita dan mencari tau tentang fito, tapi dengan sendirinya melakukan tugas-tugas rahasia itu.  “yang benar?jurusan apa dia?” tanyaku dengan antusias di telepon. Tidak ada hal tentang fito yang membuatku tidak antusias, walaupun itu hanya hal sederhana. Kiran sangat mengetahui tentang itu.
                Disana, Kiran tertawa sebelum menjawab pertanyaanku tadi. “kamu masih bertanya dia jurusan apa?.” Kiran masih tertawa puas.
“sudah pasti kimia!” jawab kiran.
Aku menelan ludah ketika mendengar jawaban Kiran. Sejak dulu, Kiran tau aku tidak pernah menyukai hal yang berkaitan dengan kimia. Terang saja kimia adalah pelajaran yang sangat aku benci dari dulu. “Serius?” Kiran tertawa sangat puas ketika hanya pertanyaan itu yang meluncur dari mulutku. Beberapa hari ini entah mengapa aku memaksa Kiran untuk mengirim fotonya saat jam istirahat kerja. Alasannya tidak lain hanya karena aku ingin tahu foto fito hari ini, kiran, fito dan kelana selalu bersama saat jam makan siang. Sehari, dua hari, aku mendapat kiriman foto selfie mereka bertiga yang dikirimkan oleh Kiran, sampai pada akhirnya hari ketiga Kiran mengirimkan foto 3 orang lelaki yang hanya terlihat punggungnya atau hanya terlihat tampak belakang, tapi aku yakin pria yang berdiri sebelah kiri itu fito. Keyakinan itu entah darimana datangnya. Tapi aku tau itu fito, dilengannya melingkar selalu jam yang ia pakai difoto-foto sebelumnya.
                Detik yang begitu cepat itu teramat membuatku bahagia. Aku mencoba menjawab tebakan Kiran yang mana fito. Tapi, sedari tadi pesanku belum dibaca. Mungkin dia sedang sibuk, bekerja di Laboratorium pabrikmemang tidak seenak yang dibayangkan. Ada hal yang harus terbayarkan untuk sebuah hasil yang terlihat bersih dan bening. Dan semua itu butuh pengorbanan, salah satunya fokus dan konsentrasi penuh. Tak hanya Kiran, fito pun begitu, dalam beberapa postingan terbarunya di instagram, terlihat beberapa caption yang menjelaskan ia lelah dengan pekerjaannya.

                From : Kiran
                Aku masih belum dibolehin pulang, nih. Tadi mbak ibel izinin aku pulang.
Tapi, fito malah menyuruh aku buat lembur!

Kiran adalah sosok yang pelupa, dan tugasku harus menginngatkannya. Ketika ada hal yang ingin ia ceritakan, tapi stuasi nya tidak memungkinkan, kiran selalu memintaku untuk mengingatkannya. Seperti tadi, katnya ada yang ingin ia ceritakan tentang fito padaku saat jam makan siang.
                “so, ada apa dengan fito hari ini?” tanyaku pada saat jam makan siang
Terdengar ditelfon kiran sedang mengunyah makanan dimulutnya. “jadi gini, tadi aku satu lift sama dia.” Ceritanya terhenti, ia menelan makanan dimulutnya. “Habisin dulu deh makanannya.”
Tak lama setelah ia menghabiskan makan siangnya ia kembali menelponku.
 “tadi aku satu lift sama dia. Mukanya keliatan capek banget, katanya kurang tidur. Sudah beberapa hari ini dia pulang subuh. Kalau kamu liat dia pasti gak tega,” jelasnya-
“kasihan! Tapi dia masih gantengkan?”tanyaku lalu tertawa.
“enggak sih, biasa aja. Hey, aku kenalin kamu ke dia ya. Dia jomblo kok. Kamu juga, siapa tau cocok tapi dia gak lagi cari pacar tapi pasangan hidup haha, masa kamu mau mendam perasaan terus. Sampai kapan? Sampai dia punya cewek? Terus kamu nyesal. Dia orang baik kok. Kamu gak salah menilai dia. Aku kenalin, ya.”
Ajakan Kiran untuk mengenalkanku dengan fito dari dulu selalu ku jawab sama, “aku belum siap, yang terlihat baik belum tentu baik, seperti air mineral didalam botol terlihat bening namun belum tentu bersih dan sehat, terkadang disana masih terkandung zat kimia yang membahayakan tubuh.” Jawabku sambil tertawa.
                Hanya itu jawaban yang bisa aku katakan. Hmm.. sebenarnya bukan itu alasannya. Aku adalah orang yang percaya dengan kekuatan harapan dan mimpi. Tapi, entah apa yang membuatku tak berani melakukan kedua hal itu untuk seorang pria bernama fito. Aku takut menyimpan harap yang berlebihan untuknya, apalagi bermimpi untuk memilikinya. Rasanya, cukuplah semuanya berjalan seperti ini.
                Biarlah aku mencintanya dengan caraku sendiri yang membiarkannya hidup dalam ruang-ruang yang tidak pernah orang lain ketahui. Hanya Tuhan, aku dan Kiran yang boleh tau tentang ini. Aku tak mengharuskan dia tahu, bahkan mengharuskan ia untuk membalasnya. Untuk saat ini, cukuplah perasaan ini bahagia dengan caraku yang teramat sederhana, dengan hanya melihatnya dalam foto, mengetahuinya dari cerita-cerita Kiran, dan jejaring sosial miliknya. Selebihnya biarkan Tuhan yang menentukan ending yang bagaimana untuk ceritaku.
Fito, ia mengenalkanku pada satu perasaan yang sebenarnya menyakitkan, tapi begitu kunikmati. Perasaan jatuh cinta diam-diam.
                To : Kiran
Minggu depan, hari ulang tahunnya fito dia ngadain acara ulang tahunnya di sebuah Resto.
“mumpung fito ngadain acara. Mau aku kenalin, engga?”

Sulit sekali mulut ini berkata mau. “kalau jodoh, aku bisa apa?” kali ini aku yang tertawa sebelum akhirnya Kiran mengakhiri obrolan.
Aku percaya ketika Tuhan menakdirkan mata ini bisa melihatnya tanpa sekat, maka tak ada satu pun yang mampu menghalangi. Atau, mungkin jika Tuhan menakdirkan dia untukku, tak ada yang tak mungkin untuk-Nya, sang sutrada Maha dahsyat. Mungkin, aku tak ingin memaksa-Nya untuk menjadikan pria itu sebagai imamku. Biarlah semuanya menjadi rahasia-Nya, akan menjadikan aku dan dia seperti apa. Akan ada saatnya aku bisa menatapmu, tanpa sekat. Tulisku dalam linimasaku.
Hari ini dua hari , sebelum ulang tahun fito, aku memutuskan untuk berangkat ke bandung memenuhi ajakan kiran datang keacara ulang tahun fito.
Perjalanan ini bukan perjalanan biasa untukku. Perjalanan hati, begitu perjalanan ini ku namai. Sebelumnya, aku berkata pada-Nya, “kalau tidak engkau izinkan mata ini melihatnya , jangan pertemukan mata ini dengan sosoknya.” Sabtu sore itu, hujan turun cukup deras , Pertandakah ? dadaku berdetak tak karuan , bukan karena dia. Lebih karena aku tak sabar menunggu jawab-Nya.
Perjalanan ini bukan main – main semata, ini juga tentang sebuah penantian yang harusnya berujung, menemui ujungnya, menemui endingnya. Tapi tak semua ending harus bahagia. Semua itu kembali kepada keputusaNya , sang sutradara kehidupan , pemilik skenario mahadahsyat.
“Siap ketemu fito?” di tengah-tengah rintik hujan , kiran tiba-tiba bertanya seperti itu.
Aku hanya tersenyum dan sesekali memperbaiki posisi backpack-ku. Aku berusaha menyembunyikan persaanku, kali  ini biarkan aku yang tahu . aku sudah tak sabar untuk bisa melihat fito secara langsung. Dan , aku tak tahu apakah perasaan ini akan tetap sama jika bertemu dengannya.
Setibanya di kost kiran , aku segara mandi . udara kota bandung selalu bisa membuat niat mandiku urung. Dan sebelum semua itu terjadi , aku harus bersiap untuk menjelajahi bandung malam ini sambil menunggu esok hari. Hari dimana aku akan bertemu dengan fito , hari dimana aku akan melihat bagaimana iya melengkungkan senyum dibibir nya.
Bandung , 04:36
Badankku terasa remuk, tidurku tak nyenyak malam ini, yaaa, finally , dropppp!!
Aku menyusahkan kiran pagi ini, iya harus melarikan ku ke IGD . Dan lagi , hati ku goyah.
Pertandakah ini Tuhan? Kami terancam tidak bisa hadir ke acara ulang tahun fito malam ini karena kiran harus merawatku di rumah sakit.
Aku tak menaruh harap pada kota itu. Kataku padanya,”Tuhan terserah Engkau sajalah.” Lagi-lagi kata itu keluar.  Dan benar saja kami tidak bisa menghadiri acara itu.
Kecewa, tidak. Mungkin sudah begitu takdir yang dituliskan-Nya. Aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta lusa. Aku tertawa melihat Kiran memaksaku untuk tidak pulang lusa, aku menolaknya.
Aku berdiri sembari memperhatikan mobil-mobil melintasi selter tempat aku menunggu travel. Kiran pun begitu, sampai pada akhirnya terdengar suara yang memanggil namanya. Tak lama sebuah motor menghampiri.
“kamu mau balik ke Jakarta? Padahal fito baru mau jengukin temen kamu yang katanya sakit, soalnya fito baru sempat” katanya sambil memperlihatkan wajah cerianya.
Kiran terdiam beberapa detik. “nggak, ini temanku yang mau balik ke Jakarta, kenalin nih teman aku” pria itu mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya.
 “fito”
“Tania”
Senyum itu, senyum yang pernah aku liat di foto, rasa ingin sekali aku melihat wajahku sekarang. “kenapa pulang terburu-buru, nanti aja”ujar fito. Ini lebih dari apa yang aku bayangkan. “travelnya udah datang. aku menunjuk sebuah mobil minibus berwarna silver yang berjalan menghamipiri kami.
Aku beranjak masuk ke travel. Dari dalam mobil aku melihat ada tawa yang sedang ditahan Kiran.
To : kiran
Thankyou. Speechless
                Aku tak ingin meminta lebih. Cukup, setidaknya untuk senyum di wajahku sore ini. Sebab, tak semua ambisi wajib bertemu “harus”, adakalanya “cukup” lebih membahagiakan daripada “harus” cukup, begitupun untukmu. Aku membatasi rasa agar tak berlebihan, karena sesuatu hal yang berlebihan itu tidak baik hasilnya, layaknya botol yang berisi air, yang akan tumpah jika di isi lebih dari porsinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar