“coba tebak, siapa orang yang aku temuin dikantor
tadi?”
“siapa?”
“fito”
Fito. Nama itu mungkin tak akan
pernah menjadi spesial jika temanku, Kiran, tidak memperlihatkan foto pria yang
sedang menarik perhatiannya saat itu. Pada foto yang diperlihatkannya, ada dua
pria sedang berdiri memamerkan senyum. Salah seorangnya bernama Kelana, yang
begitu dipuja-puja oleh Kiran. Disebelah Lana, ada pria bersweater merah dan
berkalungkan kamera DSLR. Tanpa sengaja aku memuji pria itu dengan ungkapan “cakep”
entah bagaimana aku tiba-tiba memujinya demikian, memuji orang yang kemudian
aku tau bernama fito. Fito,sama sekali aku tidak pernah mengenalnya bahkan
melihatnya secara langsung dengan kedua mataku pun belum pernah. Tapi ia,
perlahan, tapi pasti, dan tanpa aku sadari, telah membawaku pada suatu
petualangan yang tidak bisa aku kendalikan. Aku jatuh cinta kepada dia yang tak
pernah kulihat langsung. Tak pernah kusangka pujian itu membuatku berjalan jauh
mencari tahu, siapa itu Fito Prasetya Tambayong.
“fito
bekerja di PT. Indonesia Ionized Mineral Water juga,” jelas Kiran.
Yap, ia adalah rekan kerja Kiran di PT yang
memproduksi air mineral itu dan juga dibagian yang sama dengan Kiran yaitu
dibagian Laboratorium. Hanya saja fito berumur 4 tahun lebih tua daripada kami.
Sejak Kiran tahu aku tertarik pada fito dia selalu memberi tahu apapun tentang
fito yang tidak ku ketahui tentang bagaimana fito hari ini dikantor, tentang
bagaimana dia jalan dengan teman-temannya. Apapun yang Kiran ketahui tentang
fito selalu diceritakannya kepadaku. Kiran, mata ketigaku, mata yang tak pernah
ku paksa untuk bercerita dan mencari tau tentang fito, tapi dengan sendirinya
melakukan tugas-tugas rahasia itu. “yang
benar?jurusan apa dia?” tanyaku dengan antusias di telepon. Tidak ada hal
tentang fito yang membuatku tidak antusias, walaupun itu hanya hal sederhana. Kiran
sangat mengetahui tentang itu.
Disana,
Kiran tertawa sebelum menjawab pertanyaanku tadi. “kamu masih bertanya dia jurusan
apa?.” Kiran masih tertawa puas.
“sudah pasti kimia!” jawab kiran.
Aku menelan ludah ketika mendengar
jawaban Kiran. Sejak dulu, Kiran tau aku tidak pernah menyukai hal yang
berkaitan dengan kimia. Terang saja kimia adalah pelajaran yang sangat aku
benci dari dulu. “Serius?” Kiran tertawa sangat puas ketika hanya pertanyaan
itu yang meluncur dari mulutku. Beberapa hari ini entah mengapa aku memaksa
Kiran untuk mengirim fotonya saat jam istirahat kerja. Alasannya tidak lain
hanya karena aku ingin tahu foto fito hari ini, kiran, fito dan kelana selalu
bersama saat jam makan siang. Sehari, dua hari, aku mendapat kiriman foto
selfie mereka bertiga yang dikirimkan oleh Kiran, sampai pada akhirnya hari
ketiga Kiran mengirimkan foto 3 orang lelaki yang hanya terlihat punggungnya
atau hanya terlihat tampak belakang, tapi aku yakin pria yang berdiri sebelah
kiri itu fito. Keyakinan itu entah darimana datangnya. Tapi aku tau itu fito,
dilengannya melingkar selalu jam yang ia pakai difoto-foto sebelumnya.
Detik
yang begitu cepat itu teramat membuatku bahagia. Aku mencoba menjawab tebakan
Kiran yang mana fito. Tapi, sedari tadi pesanku belum dibaca. Mungkin dia
sedang sibuk, bekerja di Laboratorium pabrikmemang tidak seenak yang
dibayangkan. Ada hal yang harus terbayarkan untuk sebuah hasil yang terlihat
bersih dan bening. Dan semua itu butuh pengorbanan, salah satunya fokus dan
konsentrasi penuh. Tak hanya Kiran, fito pun begitu, dalam beberapa postingan
terbarunya di instagram, terlihat beberapa caption yang menjelaskan ia lelah
dengan pekerjaannya.
From : Kiran
Aku masih belum dibolehin
pulang, nih. Tadi mbak ibel izinin aku pulang.
Tapi, fito malah menyuruh aku buat lembur!
Kiran adalah sosok yang pelupa, dan tugasku harus
menginngatkannya. Ketika ada hal yang ingin ia ceritakan, tapi stuasi nya tidak
memungkinkan, kiran selalu memintaku untuk mengingatkannya. Seperti tadi,
katnya ada yang ingin ia ceritakan tentang fito padaku saat jam makan siang.
“so,
ada apa dengan fito hari ini?” tanyaku pada saat jam makan siang
Terdengar ditelfon kiran sedang mengunyah makanan
dimulutnya. “jadi gini, tadi aku satu lift sama dia.” Ceritanya terhenti, ia
menelan makanan dimulutnya. “Habisin dulu deh makanannya.”
Tak lama setelah ia menghabiskan
makan siangnya ia kembali menelponku.
“tadi aku satu
lift sama dia. Mukanya keliatan capek banget, katanya kurang tidur. Sudah beberapa
hari ini dia pulang subuh. Kalau kamu liat dia pasti gak tega,” jelasnya-
“kasihan! Tapi dia masih gantengkan?”tanyaku lalu tertawa.
“enggak sih, biasa aja. Hey, aku kenalin kamu ke dia
ya. Dia jomblo kok. Kamu juga, siapa tau cocok tapi dia gak lagi cari pacar
tapi pasangan hidup haha, masa kamu mau mendam perasaan terus. Sampai kapan? Sampai
dia punya cewek? Terus kamu nyesal. Dia orang baik kok. Kamu gak salah menilai
dia. Aku kenalin, ya.”
Ajakan Kiran untuk mengenalkanku
dengan fito dari dulu selalu ku jawab sama, “aku belum siap, yang terlihat baik belum tentu baik, seperti air
mineral didalam botol terlihat bening namun belum tentu bersih dan sehat,
terkadang disana masih terkandung zat kimia yang membahayakan tubuh.” Jawabku
sambil tertawa.
Hanya
itu jawaban yang bisa aku katakan. Hmm.. sebenarnya bukan itu alasannya. Aku adalah
orang yang percaya dengan kekuatan harapan dan mimpi. Tapi, entah apa yang
membuatku tak berani melakukan kedua hal itu untuk seorang pria bernama fito. Aku
takut menyimpan harap yang berlebihan untuknya, apalagi bermimpi untuk
memilikinya. Rasanya, cukuplah semuanya berjalan seperti ini.
Biarlah
aku mencintanya dengan caraku sendiri yang membiarkannya hidup dalam
ruang-ruang yang tidak pernah orang lain ketahui. Hanya Tuhan, aku dan Kiran
yang boleh tau tentang ini. Aku tak mengharuskan dia tahu, bahkan mengharuskan
ia untuk membalasnya. Untuk saat ini, cukuplah perasaan ini bahagia dengan
caraku yang teramat sederhana, dengan hanya melihatnya dalam foto, mengetahuinya
dari cerita-cerita Kiran, dan jejaring sosial miliknya. Selebihnya biarkan
Tuhan yang menentukan ending yang bagaimana untuk ceritaku.
Fito, ia mengenalkanku pada satu
perasaan yang sebenarnya menyakitkan, tapi begitu kunikmati. Perasaan jatuh
cinta diam-diam.
To
: Kiran
Minggu depan, hari ulang tahunnya
fito dia ngadain acara ulang tahunnya di sebuah Resto.
“mumpung fito ngadain acara. Mau aku
kenalin, engga?”
Sulit sekali mulut ini berkata
mau. “kalau jodoh, aku bisa apa?” kali ini aku yang tertawa sebelum akhirnya
Kiran mengakhiri obrolan.
Aku percaya ketika Tuhan menakdirkan mata ini bisa
melihatnya tanpa sekat, maka tak ada satu pun yang mampu menghalangi. Atau,
mungkin jika Tuhan menakdirkan dia untukku, tak ada yang tak mungkin untuk-Nya,
sang sutrada Maha dahsyat. Mungkin, aku tak ingin memaksa-Nya untuk menjadikan
pria itu sebagai imamku. Biarlah semuanya menjadi rahasia-Nya, akan menjadikan
aku dan dia seperti apa. Akan ada saatnya aku bisa menatapmu, tanpa sekat. Tulisku
dalam linimasaku.
Hari ini dua hari , sebelum ulang
tahun fito, aku memutuskan untuk berangkat ke bandung memenuhi ajakan kiran
datang keacara ulang tahun fito.
Perjalanan ini bukan perjalanan
biasa untukku. Perjalanan hati, begitu perjalanan ini ku namai. Sebelumnya, aku
berkata pada-Nya, “kalau tidak engkau izinkan mata ini melihatnya , jangan
pertemukan mata ini dengan sosoknya.” Sabtu sore itu, hujan turun cukup deras ,
Pertandakah ? dadaku berdetak tak karuan , bukan karena dia. Lebih karena aku
tak sabar menunggu jawab-Nya.
Perjalanan ini bukan main – main semata, ini juga
tentang sebuah penantian yang harusnya berujung, menemui ujungnya, menemui
endingnya. Tapi tak semua ending harus bahagia. Semua itu kembali kepada
keputusaNya , sang sutradara kehidupan , pemilik skenario mahadahsyat.
“Siap ketemu fito?” di
tengah-tengah rintik hujan , kiran tiba-tiba bertanya seperti itu.
Aku hanya tersenyum dan sesekali memperbaiki posisi
backpack-ku. Aku berusaha menyembunyikan persaanku, kali ini biarkan aku yang tahu . aku sudah tak
sabar untuk bisa melihat fito secara langsung. Dan , aku tak tahu apakah
perasaan ini akan tetap sama jika bertemu dengannya.
Setibanya di kost kiran , aku segara mandi . udara
kota bandung selalu bisa membuat niat mandiku urung. Dan sebelum semua itu
terjadi , aku harus bersiap untuk menjelajahi bandung malam ini sambil menunggu
esok hari. Hari dimana aku akan bertemu dengan fito , hari dimana aku akan
melihat bagaimana iya melengkungkan senyum dibibir nya.
Bandung ,
04:36
Badankku terasa remuk, tidurku tak nyenyak malam ini,
yaaa, finally , dropppp!!
Aku menyusahkan kiran pagi ini, iya harus melarikan
ku ke IGD . Dan lagi , hati ku goyah.
Pertandakah ini Tuhan? Kami terancam tidak bisa hadir
ke acara ulang tahun fito malam ini karena kiran harus merawatku di rumah sakit.
Aku tak menaruh harap pada kota itu. Kataku padanya,”Tuhan
terserah Engkau sajalah.” Lagi-lagi kata itu keluar. Dan benar saja kami tidak bisa menghadiri
acara itu.
Kecewa, tidak. Mungkin sudah begitu takdir yang
dituliskan-Nya. Aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta lusa. Aku tertawa
melihat Kiran memaksaku untuk tidak pulang lusa, aku menolaknya.
Aku berdiri sembari memperhatikan mobil-mobil
melintasi selter tempat aku menunggu travel. Kiran pun begitu, sampai pada
akhirnya terdengar suara yang memanggil namanya. Tak lama sebuah motor
menghampiri.
“kamu mau balik ke Jakarta? Padahal fito baru mau
jengukin temen kamu yang katanya sakit, soalnya fito baru sempat” katanya
sambil memperlihatkan wajah cerianya.
Kiran terdiam beberapa detik. “nggak, ini temanku
yang mau balik ke Jakarta, kenalin nih teman aku” pria itu mengulurkan
tangannya sambil menyebutkan namanya.
“fito”
“Tania”
Senyum itu, senyum yang pernah aku liat di foto, rasa
ingin sekali aku melihat wajahku sekarang. “kenapa pulang terburu-buru, nanti
aja”ujar fito. Ini lebih dari apa yang aku bayangkan. “travelnya udah datang. aku
menunjuk sebuah mobil minibus berwarna silver yang berjalan menghamipiri kami.
Aku beranjak masuk ke travel. Dari dalam mobil aku
melihat ada tawa yang sedang ditahan Kiran.
To : kiran
Thankyou. Speechless
Aku
tak ingin meminta lebih. Cukup, setidaknya untuk senyum di wajahku sore ini. Sebab,
tak semua ambisi wajib bertemu “harus”, adakalanya “cukup” lebih membahagiakan
daripada “harus” cukup, begitupun untukmu. Aku membatasi rasa agar tak
berlebihan, karena sesuatu hal yang berlebihan itu tidak baik hasilnya,
layaknya botol yang berisi air, yang akan tumpah jika di isi lebih dari
porsinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar